The Longest Day In My Life

|
Share


6 Maret 2006
Tepat 2 hari sebelum perayaan hari kelahiran saya yang ke 16. Atau bisa dibilang sudah lebih dari 5 tahun dari tulisan ini dibuat merupakan hari terpanjang dan terburuk yang pernah saya alami. Tentunya bukan karena habis diputus pacar, gagal ujian atau yang sejenis, melainkan saya harus melihat orang yang paling saya cintai di dunia menghembuskan nafas terakhirnya. Didepan kedua mata, saya harus melihat sedikit demi sedikit nafas dari perempuan yang telah membesarkan saya selama 16 tahun hilang dan berhenti.  Hal ini memang sesuatu yang sangat buruk yang pernah saya alami. Melihat wajah cantik yang dahulu selalu ceria menjadi pucat dan lemas sungguh sesuatu yang paling saya tidak ingin alami. Tapi sepertinya memang Yang Diatas ingin saya mengalami hal tersebut, mungkin agar bisa memetik pelajaran yang tersirat dibalik semua itu. 

Sedikit cerita tentang ibu kandung saya, beliau adalah seorang pengajar salah satu sekolah di kota kami. Beliau sangat tegas dan memiliki sikap kepemimpinan yang bisa membuat orang lain speechless jika berdiskusi dengannya. Jangankan orang lain, saya atau bahkan ayah saya pun selalu dibuat speechless jika bertatap muka dengannya, bukan berarti ibu saya seorang diktator keras kepala yang selalu pengen menang sendiri. Akan tetapi speechless yang disini saya maksudkan adalah, beliau seperti memiliki aura yang bisa membuat kita untuk tidak melawan atau menolak keinginannya, membuat kita hanya bisa tersenyum dan selalu berkata iya akan apa yang beliau minta. Saya juga curiga mungkin karena hal ini, ayah saya jatuh hati kepadanya. heheheeeee.... padahal kalo dilihat dari latar belakang keluarga, Ayah dan Ibu saya berasal dari keluarga yang sangat sangat berbeda yang bahkan saya pikir sangat tidak mungkin untuk disatukan.Tapi apa boleh buat, mereka memang ditakdirkan untuk menikah dan memili anak seperti saya ini,, heheeeee

April 2004
Ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, ibu saya divonis menderita kanker payudara oleh seorang dokter di rumah sakit. Tentunya hal ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi keluarga kami. Akan tetapi kedua orang tuaku tidak menyerah begitu saja. Dari diagnosis yang diberikan oleh dokter tersebut, kanker yang diderita oleh ibuku masih berada dalam stadium yang rendah. Dengan berdasar dari diagnosis tersebut, ada dua pilihan yang diberikan oleh dokter, pertama menjalani operasi pengangkatan kanker, kedua menjalani terapi herbal untuk membunuh sell kanker. Dari kedua pilihan tersebut dokter menjelaskan bawah dengan opsi pertama memang kanker akan langsung terangkat secara instan,akan tetapi secara medis tidak akan bisa menjamin bahwa akar akar dari kanker akan langsung mati dan tidak tumbuh lagi. Sedangkan pada opsi kedua, tidak akan diadakan operasi pengangkatan kanker, akan tetapi hanya terapi dengan meminum obat herbal setiap hari selama 100 hari. Obat ini akan mematikan sell kanker tanpa merusak sell2 tubuh yang lain. Pada opsi kedua ini yang menjadi hambatan adalah masalah dana, dikarenakan harga 1 pack obat herbal itu sekitar 800ribu'an, dimana 1 pack obat akan habis digunakan hanya untuk 2 hari. Selain itu, obat ini harus diminum secara terus menerus tanpa berhenti sehari pun, sialnya lagi obat ini hanya bisa bertahan selama seminggu dan obat ini hanya dijual di daerah Jombang (dimana pada saat itu saya tinggal di Madiun).
Setelah berpikir panjang tentang dua pilihan tadi, akhirnya ayah sebagai kepala keluarga memutuskan untuk mengambil opsi kedua. Setiap minggu, ayah pergi ke jombang untuk membeli obat ini. Setiap minggu pula ayah saya harus menyediakan uang sekitar 4 juta'an untuk membeli obat ini, tentunya hal ini cukup memberatkan, karena mengingat kedua orang tua saya hanya pegawai negri sipil biasa.
Yap, akhirnya 3 bulan berlalu, ibu saya kembali melakukan check up ke rumah sakit dan sangat mengejutkan bahwa hasil check up menyatakan bahwa sudah tidak ada lagi sell kanker dalam tubuh ibuku. Hal ini tentunya membuat kami sekeluarga sangat senang. 

Agustus 2005
Oke sekarang sudah lebih dari satu tahun sejak ibuku dinyatakan menderita kanker. Keluarga kami berangsur angsur membaik dan menjadi normal lagi. Akan tetapi sepertinya ujian dari Yang Diatas belum selesai sampai disini, pada suatu hari, ayah menerima telpon dari sekolah dimana ibuku bekerja yang mengabari bahwa ibuku jatuh pingsan ketika mengajar di dalam kelas. Setelah itu, ibu dibawah ke rumah sakit dan melakukan check up lagi. Akan tetapi kali ini dokter benar benar tidak bisa memberikan diagnosis yang pasti atas kondisi ibuku, dokter itu hanya menyarankan agar ibuku beristirahat. Nah berdasar pertimbangan kerabat kerabat sekitar, akhirnya ayah memutuskan untuk memeriksakan ibu ke dokter yang lain. Saya masih ingat, sore itu kami pergi ke seorang dokter yang katanya ahli di bidangnya. Dari hasil pemeriksaan lab dan foto rogten, dokter tersebut langsung mengklaim bahwa ibuku terkena kanker lagi,  kali ini kanker tersebut bertempatdikandungan (serviks). Dengan tanpa basa basi dokter itu langsung bilang didepan ibuku bahwa kanker ini sudah berada dalam stadium yang tinggi dan sangat berbahaya jika tidak dilakukan operasi. Bahkan dokter itu juga memvonis bahwa jika ibuku tidak melakukan operasi, maka umur ibuku hanya bisa bertahan hidup KURANG DARI SETAHUN lagi. Hal langsung membuat semangat ibuku drop, air mata tidak berhenti mengalir dari kedua matanya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, ayahku langsung menanda tangani surat pernyataan persetujuan operasi .
Operasi yang dilakukan kurang lebih selama 5 jam membuat kami sekeluarga tidak bisa tidur dan terus menerus berdoa. Dan akhirnya, dokter menyatakan bahwa operasi telah berhasil dan kanker telah diangkat. Alhamdulilah, itulah yang pertama kami ucapkan. Beberapa hari setelah itu akhirnya ibu diijinkan untuk pulang kerumah dan meninggalkan rumah sakit. Akan tetapi pada saat itu , kondisi ibuku masih belum bisa dibilang normal. Ibuku masih belum bisa berjalan sendiri, saya harus membantu beliau untuk berjalan.

Oktober 2005
Sudah hampir dua bulan setelah ibuku menjalani operasi, akan tetapi kondisi beliau bukannya membaik justru menjadi semakin buruk. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri saja beliau mengeluhkan rasa sakit yang teramat parah di bagian punggungnya. Akhirnya ibu melakukan check lagi, apakah sel kanker telah benar benar hilang dari tubuh beliau. Hasil dari check tersebut sangat mengejutkan kami, dimana ternyata sel kanker sudah menyebar ke tulang belakang dan akan terus menggerogoti sum sum tulang belakang. Dari hasil ini dokter hanya memiliki satu saran yaitu melakukan kemotheraphy, yaitu dengan melakukan pemanasan terhadap sel sel kanker tersebut dengan harapan sel sel kanker tersebut akan kering dan mati. Akan tetapi kemoterapi ini memiliki resiko yang sangat besar yang harus ditanggung oleh pasien. Kemoterapi ini akan menyebabkan beberapa efek samping jika dilakukan terus menerus. Efek samping tersebut adalah seperti, rambut pasien yang akan kering dan rontok, kulit akan terlihat keriput, mata akan mememiliki kecenderungan memerah. dan berbagai efek mengerikan lainnya.

Nopember 2005
Setelah hampir sebulan ibuku menjalani kemoterapi, sama sekali tidak ada perkembangan yang signifikan. Justru hal ini sepertinya hanya terus menerus menyiksa ibuku. Kemudian dokter memeriksa kembali kondisi ibuku yang setelah menjalani kemoterapi selama hampir sebulan. Setelah membaca hasil check up dari ibuku, sepertinya dokter sangat bingung dan tidak tahu harus berkata apa  apa lagi, kemudian ia mengajak ayahku untuk berbicara diruangannya. Saat itu , aku masih berada disamping bed rumah sakit tempat ibuku berbaring. Tiba tiba seorang perawat, dengan mata merah seperti terlihat habis menangis menarik tanganku, dan membawaku keluar dari kamar. Ia mengajakku untuk minum teh bersama di kantin rumah sakit tersebut. Dengan wajah menahan tangis, ia bilang kepadaku seperti ini "Dek, yang tabah ya, yang sabar perbanyak berdoa saja" aku sangat bingung dan tidak tahu lagi harus berkata apa, kemudian perawat tersebut meneruskan pembicaraannya dan secara mengejutkan berkata  "Secara medis sudah tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, obat obatan selama ini yang kami berikan hanyalah sekedar penghilang rasa sakit, bukan penyembuh sakit tersebut" . Tentunya hal ini menjadi pukulan terbesar dalam hidupku, suatu kondisi yang sangat sulit untuk diterima dimana mau tidak mau aku harus menerimanya.
Akhirnya dengan kenyataan tersebut, ayah membawa ibuku pulang kerumah, untuk dirawat sendiri. Dengan pertimbangan kalo dirumah akan ada banyak orang yang bisa menjaga.

Januari 2006
Meski mengetahui bahwa secara medis sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan atas penyakit ibuku, akan tetapi ayahku tidak menyerah begitu saja. Dengan gigih, ayahku terus mencari obat dan penyembuh untuk ibuku kemana mana, segala macam obat obat tradisional dan alternative sudah dicoba akan tetapi tetap saja tidak ada hasil berarti bagi kondisi ibuku.

2 Maret 2006
Akhirnya sel kanker tersebut telah menyebar ke otak belakang ibuku, beliau mulai lupa akan beberapa hal. Lambat laun beliau kehilangan akalnya, beliau mulai salah memanggil namaku. Saat itu benar benar canda dan kebahagian telah hilang tak berbekas dari rumahku

4 Maret 2006
Akhirnya ibuku sudah benar benar lupa dan tidak mengenali siapa aku, adikku bahkan ayahku. Tentu saja hal ini membuat kami sangat sedih. Saya ingin menolongnya tapi saya terlalu bodoh, saya terlalu lemah hingga tak sanggup berbuat apa apa. Saya hanya bisa meneteskan air mata melihat semua itu. Saya merasa benar benar tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa apa ketika melihat orang yang paling saya cintai menderita
.

5 Maret 2006
Sekitar jam 7 malam, atau sehabis sholat isya, ibuku benar benar sudah tidak sadarkan diri. Saya tau, beliau tidak sedang tidur, karena nafasnya berasa ada dan tiada. Pada tengah malam, secara mengejutkan ibuku terbangun dengan tatapan mata seperti tatapannya ketika beliau masih sehat. Ayah langsung menggengap tangan beliau dan terus menerus berigstifar. Ibu tidak berkata apa apa selain tersenyum bahagia kepada ayah saya, tersenyum seolah olah beliau ingin berterima kasih atas apa yang telah ayah saya lakukan selama ini  untuk terus berusaha demi menyembuhkannya. Saya hanya bisa mengucurkan air mata melihat semua itu. Tubuhku bergetar, jantung ini berdegup sangat keras, saya sudah tidak bisa bergerak lagi.

" My hand is trembling" 
" My heart is fastly beating"
" My tears couldn't stop falling"
" I just hope, that i can scream" 
" 'Dont go, please dont leave me alone, please stay here with me' "
" But that time, I realize....."
" I was a very weak child"
" That can't event say 'i love you' 'till the end"
" A very weak child, that can't help his mother from suffering to death"
" The only thing that i do is crying, just crying and crying"
" I know, no matter how hard i cry, no matter how many tears that i dropped, i still can't help you"
" But please, try to realize....."
" Although you never know...."
" I love you, i love you so much "
" I need you, so please stay with me, don't go anywhere"
" But in the end, i know you couldn't grant my wish....."
" So, let me say..........." 
" I Love You........"
" Thanks for letting a jerk like me to being your son " 
" Thanks for everything that you've give to me "
" Thanks for every single love that you dropped for me "
" Thanks a lot mom......"

Akhirnya pada 6 Maret 2006, dini hari, ibuku tercinta menghembuskan nafas terakhirnya, dipelukan hangat ayahku yang sangat mencintainya.

|
|
|
|
|
5 Tahun Kemudian
|
|
|
|
|

09 Juni 2011
5 tahun setelah kejadian itu, akhirnya saya sanggup untuk menulis cerita ini. Pada akhirnya Dia Yang Diatas, benar benar bekerja dengan cara yang diluar akal , dan selalu memiliki rencana yang unik untuk kita jalani, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik dan mengambil hikmah atas semua hal yang terjadi, entah itu kejadian yang membahagiakan atau kejadian yang sangat menyedihkan. Hal terpenting yang saya pelajari dari kepergian ibu adalah, sekarang saya sadar bahwa :

"Because we only have one life to live, Because we never know when we're going to die, That's why we should never give up and be the best that we can be...!!!"

Selain itu saya benar benar iri dengan rasa kasih sayang yang begitu besar yang bisa diberikan oleh ayah kepada ibu saya. Semoga saya saya kelak juga bisa memberikan rasa kasih sayang yang tulus pada perempuan yang akan menjadi pendamping hidupku, seperti halnya ayah dan ibu saya.  Amiinn,,, heheeeee ^_^V

6 komentar:

Noor Fitria Azzahra's Zone mengatakan...

yang pertama mengharukan.. yang terakhir... ehmmm..

Yohanda Mandala mengatakan...

Hahahaaa... opo'o fit yang terakhir..???
Biar ga terlalu terlarut dalam cerita, maka'e ending'e aku bilang gitu ae.. hahaa
Tapi memang bener kan...???

Menggapai Awan mengatakan...

Jo, kalo gak pas di kantor..pasti udah nangis bener dah ini. But, You already trough that time wisely, right? Keep that pink teddy bear that we bought for youuu!:)

Yohanda Mandala mengatakan...

@Fika , hahaaaa nangisnya ditunda waktu udah dikos2an ae.. heeee =))btw yg seharusnya nangis itu aku.. T____T kok jadi kamu,,, ini cerita aku bagi, soale aku pengen kalian2 yang masih ditemani seorang ibu, segera ucapkan apa yang ingin diucapkan, sebelum semua'e terlambat.... :D
Akhirnya aku bisa mengingat tiap detail kejadian ini... soale dulu2 aku selalu berusaha melupakannya agar aku bisa tenang... tapi karena suatu hal, akhir'e aku jadi inget semua.....
*Eh perasaan tu teddy bear yg kalian kasih, warnanya ga pink deh..??? hahahaaa

Alice mengatakan...

hmmm ... awal2 cm jadi silent reader ni ...
sblmnya thanks ya bnyk ilmu yg udah sy dapet dr blog ini :D (terutama buat tugas kuliah heee)
tp stlh baca yg ini (gak sengaja) ... tnyt qt punya cerita yg aga mirip ... cuman beda wktu aja mungkin ... (saya mengalami kehilangan di tahun 2001 stlh perjuangan habis2an itu)
tp jujur pengalaman hidup yg seperti ini yg bisa jadi penyemangat tambahan ketika kita down :D
Saya yakin beliau (ibu2 kita) slalu mendoakan kita dimanapun ...
Amin ...

Yohanda Mandala mengatakan...

Ammmiinn,,,,,, semoga kita bisa menjadi apa yang ibu kita inginkan... :))

Poskan Komentar

 

©2009 Yohanda's Web Blog