Alhamdulilah yah, sesuatu banget, begitulah kira kira status yang saya post di jejaring sosial facebook beberapa saat lalu ketika karya yang saya buat bersama teman teman masuk ke penjurian final INAICTA 2011. Kompetisi ini merupakan salah satu dari sekian banyak kompetisi di bidang ICT yang bisa dijadikan ajang show off oleh para praktisi teknologi informasi. Dengan dinyatakan lolosnya tim kami, maka pihak Kemkominfo selaku panitia mewajibkan kami untuk menghadiri penjurian final pada tanggal 23-24 September kemarin yang bertempat di FX Pod Jakarta. Memang, jika dibandingkan beberapa kompetisi ICT lain, kompetisi ini lebih sedikit terlihat "wahh". Hal ini dikarenakan, kategori yang dibuka bukan hanya diperuntukan para mahasiswa tetapi juga mempersilahkan para professional ICT untuk unjuk gigi dalam kompetisi ini. Kategori yang kami ikuti sendiri adalah Student Project - University Application, yang disini artinya, alhamdulilah saingan kami adalah sesama mahasiswa \^_^/. Akan tetapi tetap saja hal tersebut tidak mengurangi "panas"nya kompetisi yang terjadi.
Juri yang kita hadapi juga bukanlah orang sembarangan, nama nama besar seperti Romi Satria Wahono pun ikut "menyidang" presentasi karya kami. Kami excited banget, bisa ketemu dengan salah satu pakar Software Engineering & Computer Inteligent di Indonesia ini. Rasa deg2an pun tiba tiba juga muncul, hal ini dikarenakan pak Romi memiliki latar belakang yang kuat untuk bisa "membantai" presentasi karya yang kami buat, yaitu Smart Arzt. It's gonna be okay, take a deep breath and rilex.. begitulah sekiranya kata kata yang terus saya gumamkan. Saya pun memulai presentasi yang memang telah kami siapkan sejak beberapa hari kebelakang, setelah cuap cuip, ngomongin ini itu, akhirnya presentasi selesai dan sesi tanya jawabpun dimulai. Pertanyaan pertama (dan juga yang paling menyakitkan hahahaa) adalah "Siapa sih, sebenarnya end-user dari aplikasi ini...???" Sebelum kami sempat menjawab, Pak Romi, langsung menimpali pertanyaan itu dengan pernyataan yang kira isinya seperti ini, "Kalo tujuan kalian untuk mengurangi biaya kesehatan, mending langsung aja ke puskesmas, cuma bayar 25 ribu, udah diperiksa dan dapet obat, dari pada harus membeli komputer seharga 4 juta kemudian meng-install aplikasi ini" ,jujur ketika itu saya benar benar langsung blank mau jawab gimana, tetapi alhamdulilah dua rekan saya, yaitu Junian Triajianto dan juga Noor Fitria Azzhara sedikit banyak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan tersebut. Akan tetapi jawaban kedua rekan saya ini belum bisa memberikan kelegaan untuk para juri penanya, dimana saat itu untungnya kami diselamatkan oleh salah satu juri yang bernama Bapak Djarot Subiantoro , dengan jawaban dari beliau kondisi kembali melunak. Hufffpphhh akhrinya, akan tetapi ternyata para dewan juri tidak hanya berhenti sampai disitu saja, pertanyaan dari juri lain pun muncul, dimana kali ini juri yang bertanya sepertinya "Sengaja-Didatangkan-Untuk-Menghakimi-Kami" yaitu Bapak Teguh Ananta Wikrama pendiri dari TanyaDokterAnda.com, salah satu aplikasi yang bisa dikatakan sedikit mirip dengan aplikasi yang kami buat, akan tetapi dengan menggunakan cara yang berbeda. Pertanyaan apa mungkin lebih tepatnya pernyataan yang dilontarkan beliau adalah seperti ini "Diagnosis itu hanya bisa dan boleh dikeluarkan oleh seorang dokter setelah ia melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien, jika hanya dengan sebuah aplikasi yang menggunakan sistem tanya jawab seperti ini kalian sebut sebuah diagnosis, bisa bisa kalianlah yang dituntut apabila ada kesalahan diagnosis yang berakibat fatal pada pasien, sudah pernah baca undang undang kedokteran kan...???" pertanyaan tersebut kami jawab dengan memberikan alasan bahwa aplikasi ini hanya untuk Early-Warning-System yang bisa mengingatkan masyarakat tentang kemungkinan kemungkinan dari gejala penyakit yang mereka alami, akan tetapi beliau kemudian berkata seperti ini, "Tetap saja, untuk membuat aplikasi seperti ini kalian harus memiliki supervisor seorang dokter, dengan background kalian yang kesemuanya adalah orang IT, pengetahuan kalian tentang dunia medis sangatlah terbatas, padahal aplikasi yang kalian buat diperuntukan membantu dunia medis" , saat itu kami memang sangat setuju dengan pernyataan yang dibuat oleh beliau, sejak awal kami memang ingin mengajak rekan rekan mahasiswa kedokteran, akan tetapi karena berbagai hambatan yang muncul akhirnya kami memutuskan untuk mengerjakan aplikasi ini tanpa ada campur tangan langsung dari para praktisi medis, heheheeee.
Setelah menjalani interogasi selama kurang lebih 25 menit-an, akhirnya presentasi kami tutup dan kami dipersilahkan keluar dari ruangan interogasi,, Akhirnya........ tentunya ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kami selaku developer Smart Arzt dalam mengembangkan aplikasi ini kedepannya.
Setelah itu, kami menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto dengan salah satu juri yaitu Pak Romi Satria Wahono, kami juga sempat berdiskusi dengan beliau yang tentunya memberi kami ilmu ilmu yang sangar bermanfaat yang tidak bisa didapat di kampus. Mungkin lain kali akan saya post-kan hasil diskusi kami dengan beliau :D.
Setelah acara INAICTA selesai, teman teman lain langsung terbang menuju surabaya kembali, akan tetapi saya putuskan mampir ke Bandung untuk mengunjungi sahabat yang mungkin tidak bisa saya jumpai satu tahun ke depan :(( .
Ketika saya sampai di stasiun Bandung, tak disangka ia telah menunggu disana,,, hahahaaaaa akhirnya setelah sarapan, dia memutuskan untuk mengajak saya jalan jalan di Taman Hutan Raya, salah satu objek wisata yang memang tidak terlalu jauh dari kota, karena sore harinya saya memang sudah harus meninggalkan kota ini untuk juga kembali ke surabaya.
Kami berdua tiba di Taman Hutan Raya sekitar pukul 10.30 , langsung aja kami menelusuri jalan setapak untuk menuju Goa Jepang dan Goa Belanda yang berada dalam taman tersebut. Sepanjang perjalanan, dalam hati saya terus berkata, wwaaaoooo, keereeenn, didekat kota seperti bandung kok masih ada tempat yang alami seperti ini, udaranya yang masih terasa sejuk dan segar, pohon pohon yang menjulang tinggi, suara suara serangga yang bersahut sahutan, dan juga burung (yang terlihat seperti elang) yang terbang sangat rendah, sugghhoooiiii nee..... hahaaaa benar benar subhanallah banget deh. Sesuatu yang mustahil bisa saya temu'in di kota besar lain seperti Jakarta dan Surabaya. Hal tersebut benar benar terasa menjadi obat dari rasa penat dalam acara INAICTA sehari yang lalu. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di goa jepang, udara dingin lembab dan kegelapan yang sangat pekat harus kami hadapi untuk menyelusuri goa tersebut. Untungnya ada penyewa lampu senter, sehingga sedikit membantu untuk melihat dalam kegelapan. Goa ini dulu dibangun oleh romusa, untuk keperluan perang tentara jepang dalam menghadapi inggris di Indonesia. Goa tersebut benar benar digali didalam batuan gunung, dalam hati saya bertanya, busett, pake apaan ya bisa menggali batu sekeras ini hingga menjadi sebuah goa yang teramat panjang...???
Setelah selesai menusuri goa jepang, perjalan kami lanjutkan untuk menuju goa belanda, akan tetapi kami memutuskan tidak menyelusuri goa belanda sampai ujung dikarenakan memang jaraknya yang cukup jauh. Lelah berjalan, kami istirahat dibawah pepohonan yang rindang sambil menikmati snack yang memang sudah disiapkan oleh teman saya. Kami berdua ngobrol kesana kemari, sambil menceritakan kehidupan kuliah masing masing, dan juga ke"Galau"an yang sering dihadapai ketika menjalani kehidupan kampus. Dari obrolan obrolan tersebutlah, saya kembali sadar bahwa ternyata dunia itu sangat besar, sangat berwarna, sangat bervariasi. Memang benar, saya sebagai mahasiswa IT lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan komputer dari pada dengan orang langsung. Kehidupan teman saya yang satu ini memang bisa dikatakan sangat-jauh lebih berwarna dari pada kehidupan yang saya jalani, oleh karena itulah saya senang sekali mendengarkannya, bisa memberikan banyak inspirasi dan juga warna yang sedikit berbeda ^_^.
Setelah selesai menusuri goa jepang, perjalan kami lanjutkan untuk menuju goa belanda, akan tetapi kami memutuskan tidak menyelusuri goa belanda sampai ujung dikarenakan memang jaraknya yang cukup jauh. Lelah berjalan, kami istirahat dibawah pepohonan yang rindang sambil menikmati snack yang memang sudah disiapkan oleh teman saya. Kami berdua ngobrol kesana kemari, sambil menceritakan kehidupan kuliah masing masing, dan juga ke"Galau"an yang sering dihadapai ketika menjalani kehidupan kampus. Dari obrolan obrolan tersebutlah, saya kembali sadar bahwa ternyata dunia itu sangat besar, sangat berwarna, sangat bervariasi. Memang benar, saya sebagai mahasiswa IT lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan komputer dari pada dengan orang langsung. Kehidupan teman saya yang satu ini memang bisa dikatakan sangat-jauh lebih berwarna dari pada kehidupan yang saya jalani, oleh karena itulah saya senang sekali mendengarkannya, bisa memberikan banyak inspirasi dan juga warna yang sedikit berbeda ^_^.
Karena waktu yang sudah semakin sore, dan juga kebetulan saya belum shalat dzuhur, akhrinya kami memutuskan untuk kembali dan pulang.
Hari sudah semakin senja, yang tentunya saya harus segera menuju stasiun, karena kereta menuju surabaya yang saya tumpangi memang berangkat pukul 19:00. Disaat seperti inilah saya selalu berpikir "Kenapa harus ada matahari tenggelam dihari yang sangat indah dan menyenangkan...?". Tapi mau bagaimana lagi kereta sudah mau berangkat, para penumpang sudah diminta untuk naik, saya juga harus berkata sayonara kepada sahabat saya, lalu naik dan duduk manis dalam kereta yang akan mengantar saya kembali ke Surabaya ini.
Sedih memang, tetapi sebelum kereta berangkat tiba tiba handphone saya berbunyi, dan menunjukan ada satu pesan masuk dari rekan satu tim di kompetisi INAICTA yang mengabarkan bahwa Smart Arzt , masuk nominasi 5 besar di kompetisi ini, saat itulah kesedihan saya langsung hilang dan langsung mengucapkan syukur alhamdulilah atas semua yang telah Dia berikan.
Memang benar jawaban dari sahabat saya ini ketika saya menanyakan kepadanya "Kenapa harus ada matahari tenggelam dihari yang sangat indah dan menyenangkan...?" dimana dia menjawab "Karena memang masih ada bintang dan bulan yang tidak kalah indahnya tuk dinikmati di malam hari".
Yoosshhhh, dengan ini perjuangan Smart Arzt belum berakhir di kompetisi INAICTA, kami harus menghadiri acara exibition yang diadakan pada tanggal 4-5 di JCC.
Mohon doa nya pada teman teman sekalian, agar Smart Arzt bisa memperoleh hasil yang terbaik di kompetisi ini, :D
*Kalo ada kesempatan mampir aja ke JCC ditanggal itu, untuk bisa mencoba aplikasi Smart Arzt heheheeeeee







2 komentar:
hahahahahaha! serius kamu seneng dengerin aku cerita ngalor ngidul jo??:p
Eh ada picho,,,, hahahaaaaa kamu tidak tau sih bagaimana kehidupanku kalo dikampus,,,,,,
Benar2 suraamm,,,,,
But i like it.... hahahaaaa
Poskan Komentar