Disorientasi Arah

|
Share


Selamat jo, dengan ini kami nyatakan Tugas Akhirmu lulus dengan nilai A, tapi harus menyelesaikan beberapa revisi yang diberikan oleh penguji ini ya. 

Kira-kira begitulah kalimat yang diucapkan oleh bapak Dwi Sunaryono, selaku ketua sidang Tugas Akhir saya beberapa waktu yang lalu. Alhamdulilah, Yattaa,,, Yeess, Hooreee,,, langsung saya ucapkan ketika keluar dari ruang sidang. Perasaan hati mendadak bahagia dan berbunga-bunga (halah >_<") karena beban Tugas Akhir telah terlepas dengan nilai sempurna dan juga revisi yang terbilang minor.

Tapi entah kenapa kesenangan itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Setelah semua syarat Yudisium telah terpenuhi, perasaan cemas dan khawatir justru sering muncul tiba-tiba. Pikiran-pikiran tentang segera hilangnya status mahasiswa terus menghantui. Siapkah saya menghadapi dunia, dengan bekal selama 7 semester kuliah...???
Kesibukan yang mendadak hilang begitu saja juga membuat seperti ada sesuatu yang kurang. Jika dihari biasa, bangun pagi, mandi, langsung menuju kampus hingga sore tiba. Sekarang bangun pagi, ke kampus, terus ditanya sama temen-temen "Ngapain ke kampus...???" dan saya hanya bisa menjawab "EEhhmmm, iseng aja".


Tahun 2002, saya lulus dari SD Endrakilla Madiun, akan tetapi setelah lulus saya tahu dengan pasti akan kemana langkah saya selanjutnya.


Tahun 2005, saya lulus dari SMPN 1 Madiun, kali ini saya mulai dihadapkan dengan pilihan, tepatnya dua pilihan. Pertama, lanjut di SMAN 2 Madiun, dan yang kedua lanjut bersekolah di Malang. Untungnya saya gagal dipilihan kedua, sehingga kali inipun saya juga tahu dengan pasti akan kemana setelah lulus.


Tahun 2008, saya kembali ditanyakan lulus dari SMAN 2 Madiun. Kali pilihan yang harus saya hadapi benar-benar mulai berbagai macam. Mulai dari menuruti keingan ortu untuk lanjut kuliah di Kedokteran, menanggapi tawaran kakak sepupu untuk kuliah di Arsitektur dan bergabung di perusahaannya hingga memenuhi keingingan pribadi untuk memperdalam ilmu IT di T. Informatika. Berdasar nasihat ayah untuk selalu menuruti kata hati dalam diri sendiri, akhirnya pilihan saya jatuh di kuliah pada jurusan Teknik Informatika - ITS.


2012, meski belum secara resmi menjalani proses wisuda di Universitas ini, saya kembali dihadapkan pada berbagai pilihan yang tidak mudah. Banyak pihak yang menyarankan untuk bekerja di BUMN saja, di Bank atau sejenisnya, karena dengan itu masa depan dan hari tua akan terjamin. Disisi lain bekerja di instansi seperti itu akan membuang sedikitnya 75% dari disiplin ilmu yang dengan susah payah saya cari selama kuliah. Dan hal tersebut tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Ada pilihan lain, yaitu bekerja di perusahaan multinasional yang terus mengadakan berbagai macam inovasi dan eksplorasi teknologi baru. Dalam kondisi ini, disiplin ilmu saya bukan hilang, akan tetapi justru akan bertambah. Disisi lain, bekerja di perusahaan multinasional seperti ini memiliki resiko yang cukup besar, tingkat disiplin kerja yang tinggi dan toleransi akan kegagalan yang rendah membuat kita tidak akan bisa tenang.


Sialnya lagi, ketika curhat dengan ayah tentang pilihan-pilihan ini, beliau cuma mengatakan "Sekarang kamu sudah dewasa, ini masa depanmu, pilihanmu, tugas bapak sudah selesai untuk menyekolahkanmu hingga kau bisa mandiri. Sekarang buatlah pilihan, ikuti kata hatimu, seperti 4 tahun yang lalu, tapi jangan lupa kamu seorang laki-laki, suatu saat kamu harus bertanggung jawab dan menanggung hidup dari anak orang lain. Jangan sampai impian dan ambisi masa mudamu nanti akan menyengsarakan hidup keluargamu". 
Arrgghhhh..... Fatherr,,, i still need your help. T_____T


Tapi akhirnya saya sadar, bahwa semua ini sudah ada yang mengatur, saya yakin, jika saya tetap berusaha dan berdoa sebaik mungkin maka Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik juga. Seperti kata-kata almarhum Steve Jobs, 
"You can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something your gut, destiny, life, karma, whatever"
Apapun yang akan saya terima nanti, saya harus selalu siap dan tetap melanjutkan mimpi-mimpi yang sudah saya rajut sejak lama. Sekarang, dengan menyebut nama Allah, Maha pengasih lagi Maha penyayang, Bismillahirahmanirahim...
"Saya tidak hanya siap untuk menghadapi dunia, tetapi saya siap untuk MERUBAH dunia ini"


3 komentar:

kharisma muchammad mengatakan...

kalo mau tantangan buat startup ae, tapi gak ada jaminan kaya di BUMN

Rafika Hasna mengatakan...

selamat ya joooo...:D aku rung menyelamati atas kelulusanmu. Semoga berkah ilmune, semoga we menemukan masa depan terbaik!

Yohanda Mandala mengatakan...

@Khar maksudnya startup kaya gimana...?? bikin usaha sendiri...??

@Picho Ammiinn, amin ya rob... Sik durung resmi lulus cho,, jare kajurku gelar mahasiswa isik disandang hingga proses wisuda.. hahahaa

Poskan Komentar

 

©2009 Yohanda's Web Blog